Bersama Timbalan Menteri KDN

Bersama Timbalan Menteri KDN

Selamat Datang Ya Akhi

Laman untuk mencurah pandangan...

Halaman

Cari Blog Ini

Jumlah Paparan Halaman

Memaparkan catatan dengan label Sajak. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Sajak. Papar semua catatan

Ahad, 13 Jun 2010

WAVING FLAG

When i get older, they'll call me freedom
Just like a Waving Flag.

[Chorus]
When I get older, I will be stronger,
They'll call me freedom, just like a Waving Flag,
And then it goes back, and then it goes back,
And then it goes back

Born to a throne, stronger than Rome
but Violent prone, poor people zone,
But it's my home, all I have known,
Where I got grown, streets we would roam.
But out of the darkness, I came the farthest,
Among the hardest survival.
Learn from these streets, it can be bleak,
Except no defeat, surrender retreat,

So we struggling, fighting to eat and
We wondering when we'll be free,
So we patiently wait, for that fateful day,
It's not far away, so for now we say

[Chorus]

So many wars, settling scores,
Bringing us promises, leaving us poor,
I heard them say, love is the way,
Love is the answer, that's what they say,
But look how they treat us, Make us believers,
We fight their battles, then they deceive us,
Try to control us, they couldn't hold us,
Cause we just move forward like Buffalo Soldiers.

But we struggling, fighting to eat,
And we wondering, when we'll be free
So we patiently wait, for that faithful day,
It's not far away, but for now we say,

[Chorus] 2x

(Ohhhh Ohhhh Ohhhhh Ohhhh)
And everybody will be singing it
(Ohhhh Ohhhh Ohhhhh Ohhhh)
And you and I will be singing it
(Ohhhh Ohhhh Ohhhhh Ohhhh)
And we all will be singing it
(Ohhh Ohh Ohh Ohh)

[Chorus] 2x

When I get older, when I get older
I will be stronger, just like a Waving Flag,
Just like a Waving Flag, just like a Waving flag
Flag, flag, Just like a Waving Flag

Jumaat, 12 Mac 2010

Di Depan Komputer...

Lewat malam masih lagi mengadap komputer...
idea seakan sudah kekeringan...
merenung sekejap di kejauhan...
ku terpandang wajah manis Umi...
ku terimbas keletah manja dan nakal Iskandar...
ternyata aku sunyi...
walaupun suasana malam sesekali dihingarkan oleh deru kenderaan...
namun aku tetap sunyi...
sunyi oleh kerinduan...
yang mendekam dan menyesakkan dada...
tambah sayu mengenangkan Umi yang tidak sihat...
langsung tidak dapat bersuara...
Mujur ada SMS mendekatkan jiwa...
dikejauhan masih terasa hangatnya...
cinta yang membahang dan rindu yang menggetar...
dalam sendu dan tangis lelaki...
menggapai jemari Umi ketika malam semakin dinihari...
moga tercapai restu Ilahi...
dalam pasrah di sudut hati...

Abah
12 Mac 2010 (Jumaat)
12.38 am

Selasa, 2 Februari 2010

Di Balik Cermin Mimpi

Di balik cermin mimpi
Aku melihat engkau
Di dalam engkau
Aku melihat aku
Ternyata kita adalah sama
Di arena mimpi yang penuh bermakna

Bila bulan bersatu dengan mentari
Bayang-bayang ku hilang
Di selebungi kerdip nurani
Mencurah kasih, kasih murni
Mencurah kasih

Di balik cermin, cermin mimpi
Adalah realiti yang tidak kita sedari
Hanya keyakinan dapat merestui
Hakikat cinta yang sejati
Hakikat cinta yang sejati

Dengan tersingkapnya tabir siang
Wajah kita jelas terbayang
Dan terpecah cermin mimpi
Menjadi sinar pelangi
Pelangi

Haramkah

Haram-haramkah aku
Bila hatiku jatuh cinta
Tuhan pegangi hatiku
Biar aku tak jadi melanggar
Aku cinta pada dirinya
Cinta pada pandang pertama
Sifat manusia ada padaku
Aku bukan Tuhan

*
Haram-haramkah aku
Bila aku terus menantinya
Biar waktu berakhir
Bumi dan langit berantakan

**
Aku tetap ingin dirinya
Tak mungkin aku berdusta
Hanya Tuhan yang bisa jadikan
Yang tak mungkin menjadi mungkin

Reff:
Aku hanya ingin cinta yang halal
Di mata dunia juga akhirat
Biar aku sepi aku hampa aku basi
Tuhan sayang aku
Aku hanya ingin cinta yang halal
Dengan dia tentu atas ijinNya
Ketika cinta bertasbih
Tuhan beri aku cinta
Ku menanti cinta…

TUHAN BERIKAN AKU CINTA-AYUSHITA

Walau aku senyum bukan berarti
Aku selalu bahagia dalam hari
Ada yang tak ada di hati ini
Di jiwa ini hampa

Ku bertemu sang adam di simpang hidupku
Mungkin akan ada cerita cinta
Namun ada saja cobaan hidup
Seakan aku hina

Tuhan berikanlah aku cinta
Untuk temaniku dalam sepi
Tangkap aku dalam terang-Mu
Biarkanlah aku punya cinta

Tuhan berikanlah aku cinta
Aku juga berhak bahagia
Berikan restu dan halal-Mu
Tuhan beri aku cinta

Ku bertemu sang adam di simpang hidupku
Mungkin akan ada cerita cinta
Namun ada saja cobaan hidup
Seakan aku hina

Tuhan berikanlah aku cinta
Untuk temaniku dalam sepi
Tangkap aku dalam terang-Mu
Biarkanlah aku punya cinta

Tuhan berikanlah aku cinta
Aku juga berhak bahagia
Berikan restu dan halal-Mu
Tuhan beri aku cinta

Ketika Cinta Bertasbih

Bertuturlah cinta
Mengucap satu nama
Seindah goresan sabdamu dalam kitabku
Cinta yang bertasbih
Mengutus Hati ini
Kuserahkan hidup dan matiku padamu

Bisikkan doaku
Dalam butiran tasbih
Kupanjatkan pintaku padamu Maha Cinta
Suda di ubun-ubun cinta mengusik resah
Tak bisa kupaksa walau hatiku menjerit

Ketika Cinta bertasbih Nadiku berdenyut merdu
Kembang kempis dadaku merangkai butir cinta
Garis tangan tergambar tak bisa aku menentang
Sujud sukur padamu atas segala cinta

Rabu, 6 Januari 2010

Si Fakir Tafakur Di Taman Minda

Suatu pagi musim tengkujuh
Hujan teduh beberapa hari
Sinar matahari persis menyuluh
Si Fakir rusuh berjalan mencari

Antara teduh rendang pepohonan
Taman kota kerajaan negeri
Sinar matahari pancarkan kehangatan
Sedarkan si fakir kekerdilan diri

Lantang Tuk Guru mengajar di madrasah
Si fakir jahil semakin gundah
Berilmu beriman tiada membantah
Si fakir miskin menolak syariah

Bertemu wakil menjaja puisi
Si fakir beradu di Taman Minda
Kolam air memancut tinggi
Menggapai langit pimpinan ulama

Si fakir tafakur di wakaf warisan
air pancutan tempayan gergasi
Adakah jalan mendamaikan pergaduhan
Perebutan kuasa negara demokrasi?

LEO AWS,
Kota DarulNaim

Sabtu, 31 Oktober 2009

Harapanku

Sajak ini diterjemahkan oleh Dato' A Kadir Jasin daripada karya asal "MY ONLY WISH" yang di deklamasikan dengan penuh melankoli oleh seorang kanak-kanak Malaysia, Ismail Ibrahim bin Yahaya, lapan tahun di majlis pembukaan Persidangan dan Pameran Menjenayahkan Perang (criminalising war) oleh Bekas Perdana Menteri, Tun Dr Mahathir Mohamad, di Pusat Dagangan Dunia Putera (PWTC).


SEGALA bala tenteramu
Segala pesawat pejuangmu
Segala kereta kebalmu
Dan Segala soldadumu
Berdepan seorang kanak-kanak
Yang menggenggam seketul batu
Bersendirian dia berdiri di situ
Dalam sinar matanya
Kulihat sinar mantari
Dalam senyumnya
Kulihat sinar rembulan
Dan aku pun bertanya
Sekadar bertanya
Siapa yang lemah melarat?
Dan siapa yang kuat hebat?
Siapa yang benar?
Dan siapa yang hambar?
Dan aku berharap
Sekadar berharap
Yang kebenaran
Kini berada di hadapan.

Sabtu, 5 September 2009

Malam Kenangan Teman Seperjuangan


NOSTALGIA DI HUJUNG SENJA

Kutatap, kujabat, kudakap erat
Tubuh-tubuh berbalut kulit mengeriput
Memutih dari rambut ke janggut
Dapat kurasakan hangatnya setiakawan
Tiga dekad sepakat setekad
Bersama terhumban di padang karang
Tersadai diamuk badai

Ku tatap wajah-wajah teman lama
Ketika mata pudar berkisar mengitar dari meja ke meja
Terasa ada yang tiada
Kutanyakan khabar rakan-rakan seangkatan yang tak kelihatan
Si Suto dan Si Noyo, Si Awang dan Si Ujang
Si Dali dan Si Mamat

Katanya
Si Suto hilang tak tahu rimbanya
Si Noyo ghaib entah di mana nisannya

Si Awang sibuk mendulang wang
Mahu jadi jutawan gedongan
Pemilik dagangan bergudang-gudang

Si Mamat tak sempat
Terlalu penat kerja kuat, mahu jadi Yang Berhormat
Sudah empat kali lompat
Belum juga dapat

Mana Si Ujang
Yang dulu memencak-mencak membela keadilan?
Katanya: Si Ujang tak dapat datang
Kini dia berada di seberang
Jalan-jalan cari makan

Bagaimana dengan Si Embong?
Katanya, dia masih berkabung
Menangisi isterinya, Dewi Demokrati
Yang baru mati
Dibelasah hantu pangkah

Apa khabar Si Fatah?
Alhamdulillah, dia tidak berubah
Masih betah berusrah
Pejam dalam al-Fatihah
Celik kembali dengan wa’l-‘asri

Mana Si Dali
Orang kuat yang dulu mendapat pingat
Wira Sakti, Panglima Besi
Katanya, Si Dali uzur lagi
Kencing manis, darah tinggi
Saban minggu ke KBMC

Mana Si Wira?
Aku rindu bicaranya yang selalu menggetar jiwa
Katanya: setelah bersengketa dengan Mamak Bendahara
Si Wira pergi bertapa
di Gua Panjaraga
berguru di Hulu Sungai Bambu
Nanti Wira kan kembali
Dan pasti lebih sakti lagi …..

II

Detik-detik nostalgik
Memecah tawa-tangis printis
Yang lama membeku terbuku
Dalam kelu lidah sejarah

Kutatap wajah-wajah layu
Teman-teman lamaku: mahaguru dan KSU
Pembesar bergelar, figure tersohor


Ingin rasanya aku bertanya
Masihkah kau ingat asal-usulmu?

Anak kampung paling hulu
Merangkak ke gedung ilmu bernama M.U
Diiringi doa orang tua yang bangga
Dibebani harapan warga desa yang sengsara

Mahasiswa pemimpin hari muka
Cendekia dalam pustaka pujangga
Dewasa dalam gelora demo di jalan raya
Akdemia, semangat agama merbah anak desa
Menjadi “ elemen yang sedar dari masyarakat”
Jurubicara umat, penyuara aspirasi rakyat
Kau bangkit bersama mahasiswa menggugat
Pengkhianat dan penjilat
Masih terasa perihnya prasangka, pedihnya telinga
Dituduh penderhaka
Anak muda tak kenang jasa
Mempersenda “Bapak Merdeka”

Peduli apa kata derhaka yang sudah lama hilang bisa
Sejak ternodanya makna
Menjadi senjata penguasa menindas jelata

Membangkang bukan menanggang
Mendebat bukan menjebat Ingin rasanya kupinjam suara raksasa
Mendeklarasi derhaka versi kita
Derhaka kita jihad mulia
Dari setia menjadi hamba, biar derhaka demi merdeka
Dari setia seperti Haman, biar derhaka sebagai Musa

Kutatap wajah-wajah istiqamah
Tak tergoyah dek duit berkampit
Tak patah dek kenyit dan gamit si genit

Meski di sini banyak dera dan deritanya
Kita tetap setia
Warga bertaqwa bahagia di bumi derita
Tetapi mewah dengan barakah, meriah dengan ukhuwwah

Dari pita nostalgia memori pagi
Kini kita tiba di senja penuh hiba
Ketika ufuk senja memerah
Tanda mendekatnya saat berpisah
Aku resah dalam gelabah muhasabah
Setitik jasa, selaut dosa

Seakan kulihat malaikat mencatat
Kalimat-kalimat sinis menghiris
Dasar si dungu tak tahu malu
Modal amal sekepal, mengharap untung segunung

Usia senja, menjadi pesara
Bukan masa lega merdeka
Puas melepas, menghempas tugas yang digalas
Ia adalah masa cedera yang cemas
Sisa-sisa nafas di simpangan arah
Husnu’l-khatimah-su’u ‘l-khatimah

Hari kita semakin senja
Segudang agenda tak terlaksana
Mengharap pewaris setia
Penerus cita-cita, penebus kecewa
Tapi, di mana mereka?

Ya Tuhan,
Dengarkan pinta hamba di hujung senja
Seperti dulu Kau perkenan do’a Zakariya
Pengabdi tua meminta putera
Lalu Kau kurniakan Yahya
Sayyida, hasura, nabiyya Ya Tuhan,
Berkenan kiranya mencurah kurnia
Seribu Yahya, sepetah Harun, segagah Musa
Menyanggah bedebah media pendusta
Mendaulat agama, memperkasa bangsa

Dato Dr. Siddiq Fadzil

Selasa, 1 September 2009

Pantun

Kiri jalan kanan pun jalan,
Sama tengah pohon mengkudu,
Kirim jangan pesan pun jangan,
Sama-sama tanggung rindu.

Ahad, 9 Ogos 2009

Lagu Warisan

Anak kecil main api
Terbakar hatinya yang sepi
Air mata darah bercampur keringat
Bumi dipijak milik orang

Nenek moyang kaya raya
Tergadai seluruh harta benda
Akibat sengketa sesamalah kita
Cita lenyap di arus zaman

Indahnya bumi kita ini
Warisan berkurun lamanya
Hasil mengalir ke tangan yang lain
Pribumi merintih sendiri

Masa depan sungguh kelam
Kan lenyap peristiwa semalam
Tertutuplah hati terkunci mati
Maruah peribadi dah hilang

Kini kita cuma tinggal kuasa
Yang akan menentukan bangsa
Bersatulah hati bersama berbakti
Pulih kembali harga diri

Kita sudah tiada masa
Majulah dengan Maha Perkasa
Janganlah terlalai teruskan usaha
Melayukan gagah di Nusantara (3x)

Rabu, 5 Ogos 2009

MENJANA UMMAH GEMILANG

Sudah lama bangsa ini terjajah
Tanah air terjual murah, tergadai maruah
Ibu pertiwi diratah dimamah
Air mata mengalir bagai darah dan nanah

Dari sulur tunas yang muda
Dari akar berbaja kecewa
Bangkit semangat membara bernyala
Dihembus angin perubahan minda jelata

Dari tanah rentung terbakar
Dari rendah tumbuh berakar
Dari kuncup berkembang mekar
Kini jiwa bangkit menyasar

Semangat Hadhari kita kembangkan
Menjadi lambang jiwa kemajuan
Sejarah lama jadi tauladan
Mencipta sejarah untuk masa hadapan

Marilah kita bersama
Teguhkan dalam barisan
Semangat terus kobarkan
Pemuda Islam pertama di hadapan
Bersama Menjana ummah gemilang
Bersama Menjana ummah gemilang

Hasil nukilan
Ramlan Ramli
10.15 pm (24 Januari 2008)

Khamis, 25 Jun 2009

Sajak : Apa Yang Hilang

Apa yang hilang?
Dari dalam diri seorang gadis
Yang dahulunya menjadi pinggitan
Serta turut jadi bualan
"Molek sungguh anak Pak Polan"
Sedang pada ketika ini
Si gadis sedang jadi taruhan
Siapa menang dalam perlumbaan
Hanyutlah dia semalam-malaman
Bersama gemuruh tepukan Syaitan
Meraikan hadirnya seorang teman
Bersama menuju kemurkaan Tuhan.

Apa yang hilang?
Dari dalam diri seorang pemimpin
Yang dahulunya menuturkan janji
Akan membela maruah pribumi
Sedang pada ketika ini
Serba serbi tak menjadi
Akibat lalai diri sendiri
Ingatlah wahai pemimpin bistari
Ketika engkau di mahkamah Ilahi
Kami semua menjadi saksi
Menghumbankan engkau ke dalam api.

Ramlan Ramli
PPPsi
PPKK Serendah